Selasa, 31-03-2026
  • Selamat Datang di Website Resmi SMP Texmaco Pemalang - Jl. Swadaya Kel. Beji Kec. Taman Kab. Pemalang Prov. Jawa TengahSelamat Datang di Website Resmi SMP Texmaco Pemalang - Jl. Swadaya Kel. Beji Kec. Taman Kab. Pemalang Prov. Jawa TengahSelamat Datang di Website Resmi SMP Texmaco Pemalang - Jl. Swadaya Kel. Beji Kec. Taman Kab. Pemalang Prov. Jawa TengahSelamat Datang di Website Resmi SMP Texmaco Pemalang - Jl. Swadaya Kel. Beji Kec. Taman Kab. Pemalang Prov. Jawa Tengah
  • Selamat Datang di Website Resmi SMP Texmaco Pemalang - Jl. Swadaya Kel. Beji Kec. Taman Kab. Pemalang Prov. Jawa TengahSelamat Datang di Website Resmi SMP Texmaco Pemalang - Jl. Swadaya Kel. Beji Kec. Taman Kab. Pemalang Prov. Jawa TengahSelamat Datang di Website Resmi SMP Texmaco Pemalang - Jl. Swadaya Kel. Beji Kec. Taman Kab. Pemalang Prov. Jawa TengahSelamat Datang di Website Resmi SMP Texmaco Pemalang - Jl. Swadaya Kel. Beji Kec. Taman Kab. Pemalang Prov. Jawa Tengah

Mengeja Kehidupan, Membaca Perubahan

Diterbitkan : Senin, 17 November 2025

Mengeja Kehidupan, Membaca Perubahan

Gigih Primahardika Mukti

Saya pernah mendengar sebaris lagu yang pernah dinyanyikan oleh Kunto Aji yang berjudul “Pengingat” yang berbunyi “dunia ini lebih luas dari ruang kelas”, agaknya menurut saya, itu menggambarkan pendidikan. Menjadi guru dengan segala romantikanya, peran ini saya anggap sebagai anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Guru juga manusia biasa, manusia seutuhnya dan apa adanya yang didalam konteks pendidikan ada sistem holistik membutuhkan kesejahteraan, kesetaraan, kejelasan nasib, dan perlindungan hukum.

Guru adalah manusia kolaboratif yang jangan hanya terkungkung di dalam kelas dan hanya berharap mendapatkan penghormatan dari siswa semata, guru harus membangun mitra dengan semua pihak baik dengan pihak di dalam internal satuan pendidikan atau dunia pendidikan dan dengan pihak luar untuk menambah relasi dan ilmu. Guru juga harus berwawasan luas, melek teknologi dan mengetahui info terkini/ up to date. Waktu bergulir normal sehari 24 jam, seminggu 7 hari dan seterusnya, tetapi yang saya rasakan terjadi anomali waktu yang serasa cepat sekali. Baru kemarin Senin, ini sudah Senin lagi. Baru kemarin Januari sekarang sudah menjelang akhir tahun saja.

Waktu bergulir deras tidak terbendung. Seperti halnya peradaban dan perubahan yang tidak bisa terelakkan. Kita sebagai guru tidak terasa sudah meluluskan berbagai angkatan, bahkan ada yang sekarang membersamai kita sebagai sesama profesi guru. Mungkin peran kita mengajar sudah mulai tergantikan dengan adanya media sosial, youtube, instagram, tik tok, dll yang kontennya apik dan menarik, tetapi kita sebagai pendidik yang harus mendidik moral dan akhlak ibarat gas dan rem. Anak-anak kita harus diarahkan karena jujur saja mungkin secara digital dan media, anak lebih fasih dan mahir dari guru.

Anak-anak zaman sekarang sudah bervariasi dalam memilih cita-cita dan masa depan, berbeda dengan masa kecil dan remaja saya dan rekan-rekan Ibu dan Bapak Guru alami, cita-cita kita terbatas pada hal-hal yang sederhana orang dulu inginkan misalnya ingin menjadi dokter, guru, presiden, insinyur, petani, dll. Sedangkan keadaan sekarang yang bersifat global dan digitalisasi menuntut anakharus berkembang menyesuaikan zamannya, mereka tidak hanya memunyai harapan yang sama seperti kita cita-citakan dulu, mereka juga memunyai masa depan sesuai zamannya, ada yang ingin menjadi konten kreator, pengusaha, desainer, software development, social media spesialist, conten writer, dll.

Perubahan dalam tatanan kehidupan adalah keniscayaan dan sebuah kenormalan, suka tidak suka, ikhlas tidak ikhlas, kita harus berdamai dengan semua ini. Pemimpin berganti pemimpin, kebijakan dalam pengelolaan pendidikan ikut berubah. Kurikulum berganti kurikulum, gurupun wajib berbenah. Ya, itulah adanya. Dulu, saya melihat guru saya di sekolah formal dan guru ngaji saya di sekolah ketika mengajar membawa buku atau kitab dan menenteng penggaris kayu/ mistar dan membawa tongkat kecil yang terbuat dari potongan bambu kurang lebih berukuran setengah meter. Selain itu perangkat yang ada di kelaspun menggunakan papan hitam memakai kapur. Almarhum Bapak saya pernah merasakan menjadi guru PNS gajinya kecil sekali, dulu belum ada sertifikasi. Sekarang, semua berubah dan harus berubah, tentunya hal baik perihal perubahan harus kita terima. Sekarang mengajar sudah memakai papan tulis putih, spidol, LCD proyektor, guru harus menguasai standar minimal microsoft, canva, harus mahir memroduksi dan mengedit video pembelajaran. Itu diatas belum seberapa dengan peran mengajar dan mendidik yang banyak jumlahnya, belum lagi mendengar curhatan dan keluhan anak yang kompleks, ada yang broken, ekonomi minim. Padahal sebagai individu dan manusia seutuhnya, guru juga memiliki masalah juga, ada yang masalah ekonomi, keluarga, sosial, permasalahan suami/ istri, dll yang ketika sudah masuk kelas, kita harus siap menjadi “superman” yang dimata murid kita dianggap sebagai manusia yang hebat, mumpuni, strong, dan serba bisa. Saya melihat, guru zaman sekarang ada yang sebagian berpenampilan keren bahkan mewah walaupun masih ada sebagian yang berpenampilan sederhana karena memegang prinsip guru adalah berwibawa dengan kesederhanaannya. Tak masalah tentang penampilan itu, yang penting sisi humanis, jujur, tegas, integritas, berwawasan, mumpuni, dan siap menerima masukan selalu menjadi karakteristik seorang guru.

Dunia berubah, teknologi berganti, peradaban mengiringi zaman, namun, guru adalah profesi yang tidak akan luntur oleh keadaan dan peradaban kapanpun. Guru adalah penjaga peradaban yang memoles siswa yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, yang tidak berbudi menjadi berbudi. Ingat, ditengah gempuran teknologi, guru berperan “mengerem” perilaku siswa biar tidak kebablasan kecanduan game online, bahkan judi online sampai dengan video “dewasa”. Semoga guru tetap menjadi insan cendekia dan berbudi, sebagai amal bakti, bekal akhirat nanti.

0 Komentar

Beri Komentar

Balasan